
Sumber gambar: Ilustrasi oleh Aveny Raisa Maarif
Kecanduan Judi Online: Saat Perilaku Impulsif Mengalahkan Rasionalitas
23 September 2025
Iklan gim slot dan janji “menang besar” kini mudah ditemukan di media sosial. Sekilas terlihat seperti hiburan, tapi di balik itu banyak orang yang terjebak dalam lingkaran kecanduan. Menurut psikolog klinis Danny Sanjaya Arfensia, S.Psi., M.Psi., Psikolog., fenomena judi online (judol) berdampak luas, “kalau secara klinisnya bukan hanya merugikan dirinya sendiri, tetapi secara aspek sosialnya juga tentu terpengaruh.”
Ketika Perilaku Impulsif Mengambil Alih
Iklan gim slot dan janji “menang besar” kini mudah ditemukan di media sosial. Sekilas terlihat seperti hiburan, tapi di balik itu banyak orang yang terjebak dalam lingkaran kecanduan. Menurut psikolog klinis Danny Sanjaya Arfensia, S.Psi., M.Psi., Psikolog., fenomena judi online (judol) berdampak luas: “kalau secara klinisnya bukan hanya merugikan dirinya sendiri, tetapi secara aspek sosialnya juga tentu terpengaruh.”
Ketika Perilaku Impulsif Mengambil Alih
Danny menjelaskan bahwa pola perilaku pemain judol mirip dengan bentuk adiksi lain. “Kalau berbicara soal adiksi-pun kan sebetulnya tidak hanya tentang ini, kita juga berbicara soal bentuk fanatisme online, itu kan juga termasuk kecanduan begitu kan.” Namun, akar masalahnya sering kali ada pada perilaku impulsif.
“Kecanduan sendiri itu mostly tentang orang-orang… yang saya lihat itu… impulsif seperti itu. Impulsif itu kayak mereka condong mengambil keputusan secara cepat, tetapi tidak memikirkan dampak kebelakangnya.”
Menurut Danny, impulsifitas tidak muncul begitu saja. “Tidak mungkin dalam konteks ini mereka menjadi impulsif dengan sendirinya, bisa jadi pula mereka memang sejak awal punya bakat/bibit-bibit untuk menjadi orang impulsif, entah itu dari orang tuanya, atau dari lingkungan sekitar yang memberikan pendidikan kepada mereka.” Orang impulsif, lanjutnya, “kurang atau bahkan tidak dibekali dengan cara berpikir jangka panjang, jadi cuma memikirkan keputusan cepat yang bisa diambil, namun ia tidak memikirkan dampak ke dirinya dan dampak ke lingkungan setempatnya.”
Algoritma dan Tekanan Sosial
Sifat impulsif diperkuat oleh sistem permainan yang memancing pemain untuk terus bermain. “Yah kayak dia dapat keuntungan secara cepat lewat judol, nah disini mungkin algoritmanya membuat orang tersebut menang-menang-menang terus begitu, setelah itu giliran ke sekian dia jadi kalah atau malahan harus beli token (kode) atau segala macamnya yang lain,” jelas Danny.
Selain itu, media sosial dan rasa takut tertinggal (FOMO) juga berperan besar. “Kalau orang FOMO, ini berarti kan dia takut kelewatan, takut ketinggalan zaman, takut tidak update,” ujarnya. “Kebanyakan orang itu akan nge-follow orang yang diminati oleh dia… Nah, kalau menurut saya sendiri pasti terdapat hubungannya karena sekali lagi setiap orang itu tidak mau ketinggalan zaman, ditambah juga adanya sosial media ini juga kan membentuk seseorang.”
Dorongan untuk eksis sering membuat seseorang lupa akan kemampuan finansialnya. “Misalnya, kebutuhan-kebutuhan akan eksistensialnya seseorang (gadget baru, baju baru, dll), ini yang membuat mereka kemudian tidak ingat akan kondisi finansial mereka. Ya, intinya sangat berhubungan antara FOMO, judol, pinjol, yang memaksa ia untuk mendapatkan uang.”
Pelarian dari Masalah dan Upaya Pulih
Dalam kondisi stres, banyak orang menjadikan judi online sebagai pelarian. “Jadi, semacam pelarian gitu atas permasalahan yang mereka hadapi, apalagi dalam kondisi yang kalut, yang dia sebenarnya tidak dapat berpikir jernih,” kata Danny.
Untuk pemulihan, ia menjelaskan bahwa pendekatan psikologi bisa dilakukan secara individu maupun kelompok. “Jadi salah satu cara yang sering digunakan oleh psikolog itu dengan mengumpulkan orang-orang yang memiliki permasalahan serupa atau bahkan tidak serupa, ini dilakukan supaya mereka bisa saling memiliki experience yang berbeda-beda dan dapat mengambil insight dari sudut pandang yang berbeda.”
Ia juga menilai sistem anonim dapat membantu. “Ada orang-orang itu, yang tidak berani buat menceritakan permasalahannya dengan menunjukkan dirinya begitu,” ujarnya.
Mengembalikan Kendali
Kecanduan judi online bukan hanya persoalan finansial, tapi juga bagaimana hal tersebut memicu seseorang kehilangan kendali atas diri dan pikirannya. Dorongan impulsif, tekanan sosial, dan pelarian dari stres menciptakan siklus yang sulit diputus. Pemulihan dimulai dengan kesadaran, dukungan sosial, dan ruang aman yang memungkinkan individu untuk mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi.
Sumber kutipan: wawancara dengan Danny Sanjaya Arfensia, S.Psi., M.Psi., Psikolog.